Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Ponpes Sukorejo Situbondo Gelar Do'a Bersama dan Upacara Bendera HUT RI ke 71

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke 71 pada tanggal 17 Agustus 2016, ada yang berbeda di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah (P2S2) Sukorejo kec. Banyuputih kab. Situbondo Prov. Jawa Timur. Yaitu berdasarkan informasi dari Sekertaris Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Ahmad Fadail (yang kami kutip dari salah satu sumber), pesantren yang memiliki ribuan santri ini baru pertama kali melaksanakan upacara dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan RI.

Foto: serambimata.com

Adapun sebelum pelaksanaan upacara bendera dilaksanakan Doa, Tahlil, dan Pembacaan Al-qur'an bersama di Masjid Jami' Ibrahimy Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo yang ditujukan bagi para pejuang dan bagi kemajuan bangsa dan negara. Kegiatan Doa, Tahlil, dan Pembacaan Al-qur'an bersama inilah yang sudah biasa dilaksanakan setiap tahunnya saat memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Foto: .gunungsitoli.rri.co.id

Pada kegiatan upacara bendera HUT RI ke 71 ini, para santri putra selaku peserta upacara mengenakan kopiah dan sarung serta gamis putih dengan hikmat mengikuti jalannya pelaksanaan kegiatan upacara.

Foto: antarajatim.com

Berikut amanat yang disampaikan oleh pengasuh ke-4 Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah (P2S2) Sukorejo Situbondo KHR Azaim Ibrahimy saat menjadi inspektur upacara:

Pertama, kita harus memperbaiki niat dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekan negara tercinta Republik Indonesia. Jangan sampai mencoreng perjuangan para syuhada’’dan ulama’ pahlawan yang telah gigih berjuang berkorban jiwa dan raga untuk sajadah negeri ini, negeri tempat kita beribadah. Ingat bahwa yang diperjuangkan para pahlawan bukan hanya tanah dan bangunan. Tetapi, yang diperjuangkan adalah tanah tempat kita mendirikan sholat. Negeri tempat kita beribadah kepada allah. Maka keamanan, ketertiban dan stabilitas nasional yang telah diperoleh dari kemerdekaan merupakan bagian karunia yang wajib kita syukuri bersama.

Kedua, Pelajarilah dengan baik sejarah agar kita tidak salah memahaminya. Dipilihnya hari kemerdekaan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan dengan perencanaan yang sangat matang. Dengan membaca sejarah, kita akan tahu bahwa kemerdekaan Indonesia 17 agustus 1945 bertepatan dengan bulan ramadhan, dimana terdapat sejarah besar dalam perjalanan umat islam pada bulan ramdhan. Kemenangan pasukan Rasulullah atas pertolongan Allah dalam pertempuran Badar terjadi di bulan Ramdhan.Semangat inilah yang kemudian diambil oleh para pejuang kemerdekaan untuk melepaskan negeri ini dari jerat penjajahan. Selain itu terdapat makna, mengapa 17 agustus 1945 dipilih sebagai waktu ikrar proklamasi oleh bapak bangsa Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta. Ini semua bukanlah kebetulan akan tetapi ada filosofi yang terkandung di dalamnya. Jika kita dapat menganalisis, bahwa angka 1 ditambah 7 sama dengan 8 yang merupakan jumlah dari Khulafaur Rosyidun dan Imam madzhab yang empat. Kemudian makna 1945 yang jika ditambahkan angka 4 dan 5 maka berjumlah 9. Lantas ada apa dengan angka 9 yang itu juga merupakan jumlah huruf dari nama negara kita INDONESIA. 9 merupakan jumlah auliya’ yang berajasa dalam perjuangan menyebarkan agama islam di indonesia khususnya tanah jawa.

Ketiga, Bahwa para santri tidak boleh lepas dari patriotisme semangat membela tanah air. Karena dengan membela tanah air berarti kita membela berlangsungnya pengamanan agama.Karena menjadi tidak mungkin kita dapat menjalankan syari’at agama dengan aman dan tentram saat negara kita tidak aman. Seperti yang terjadi dibeberapa negara saudara kita ditimur tengah.

Keempat, Inilah saatnya kita bersyukur kepada Allah dengan cara santri. Mengisi kemerdekaan dengan menimba ilmu, tafaqqu fiddin.Sehingga kelak pada saatnya nanti kalian akan menjadi anak-anak bangsa yang akan menggantikan para pemimpin negeri ini dimasa depan. Kawal negeri ini, kawal menuju ridho allah. Jangan serahkan negeri ini kepada para koruptor penghianat bangsa yang hanya berbuat demi kepentiangan diri sendiri.

Kelima, mulai saat ini harus terus belajar dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh manfaat dan barokah untuk agama, nusa dan bangsa.

Keenam, Jangan pernah melupakan perjuangan ulama’ dan syuhada’ dengan senan tiasa bertawasul dan mendoakan beliau. Sehingga sambungan ruhani kita tidak pernah terputus dengan orang-orang yang telah berjasa kepada bangsa dan agama.Bangsayang baik dan besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa pahlawannya.

Ketujuh, doa kita haturkan kepada para ulama’ dan syuhada, semoga beliau para ulama’ dan syuhada’ ulama pejuang pembela kemerdekaan ini mendapatkan pahala yang diridhoi oleh Allah SWT serta  dicatat amal sholih dan diampuni salah dan doanya.

Proses pelaksanaan upacara, dilaksanakan layaknya upacara bendera pada umumnya yaitu petugas pengibar bendera dilakukan oleh petugas paskibra santri pesantren.

Sumber:
http://www.antarajatim.com/berita/182576/ribuan-santri-pesantren-asembagus-situbondo-gelar-upacara-bendera?utm_source=related_news&utm_medium=related&utm_campaign=news
http://gunungsitoli.rri.co.id/post/berita/300488/nasional/14_ribu_santri_salafiyah_syafiiyah_sukorejo_situbondo_gelar_upacara_bendera_hut_ri_ke71.html
https://serambimata.com/2016/08/17/tanamkan-semangat-nasionalisme-pesantren-sukorejo-gelar-upacara-bendera-hut-ri-ke-71/
http://amikinews.blogspot.co.id/2016/08/upacara-hut-ri-71-pertama-bumi.html

Senin, 15 Agustus 2016

KHR. Dhofier Munawar, Sang Arsitek Keilmuan Pondok Pesantren Sukorejo

Salah satu daya tarik Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo adalah bidang fiqh, terutama lembaga pengkaderan ilmu fiqh yang dikenal dengan Ma'had Aly. Sudah ratusan ahli fiqh yang pernah digembleng di Pesantren Sukorejo. Namun, pernahkah kita bertanya; siapakah sang arsitek keilmuan di Pondok Sukorejo tempo dulu, sehingga Sukorejo dikenal sebagai gudangnya fuqaha'?

Sang arsitek itu, Kiai Haji Raden Dhofier Munawar atau yang lebih dikenal dengan sapaan Syeikh Dhofier. Syeikh Dhofierlah yang mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan keilmuan di Pesantren Sukorejo. Apalagi, sejak tahun 1974 sampai meninggalnya, jabatan beliau adalah mansya'.

Syeikh Dhofier memang dikenal alim, terutama dalam bidang fiqh. Bahkan konon, Kiai As'ad sendiri mengakui: dalam bidang fiqh beliau kalah dibanding sang menantu, Syeikh Dhofier.


Pengembaraan Syeikh Dhofier dalam bidang keilmuan mulai diasah di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren ini, beliau digembleng sendiri oleh kakak iparnya, KH. Abdullah Bajjad. Kiai Abdullah ini suami Nyai Shafiyah, kakak kandungnya. Di Guluk-guluk Syeikh Dhofier melahap semua kitab-kitab ilmu alat, semacam nahwu dan sharraf.

Belum puas menimba ilmu di Annuqayah, Syeikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya di Pondok Pesantren Sidogiri, dibawah asuhan KH. Abdul Djalil. Di Pesantren Sidogiri ini, Syeikh Dhofier pernah diangkat sebagai "kelurahan" pondok pesantren. Menurut penuturan beberapa temannya, Syeikh Dhofier terkenal dengan kewara'an dan kealimannya. Bahkan beliau dikenal sebagai "Macan Sidogiri". "Banyak santri yang antri sorogan kitab kepada beliau di asramanya," imbuhnya.

Setelah di Sidogiri, Syeikh Dhofier melanjutkan pengembaraannya ke Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah, asuhan Kiai Maksum. Di Pesantren ini, konon beliau hanya untuk mencari barokah. Dan tidak beberapa lama kemudian, Kiai As'ad memanggilnya untuk membantu Pondok Pesantren Sukorejo.

Kiai kelahiran 1923 tersebut lalu dikawinkan dengan Nyai Zainiyah As'ad. Syeikh Dhofier dan Kiai As'ad sebenarnya masih famili; silsilahnya bertemu di Kiai Ruham, sang kakek. Syeikh Dhofier ini putra bungsu Kiai Munawar bin Kiai Ruham. Pasangan Syeikh Dhofier-Nyai Zai ini akhirnya diberi karunia empat putri dan seorang putra; yaitu Qurratul Faizah, Tadzkirah (meninggal usia 6 tahun), Uswatun Hasanah, Umi Hani’, dan Imdad Ibrahimy yang kemudian berganti nama Azaim Ibrahimy.

Syeikh Dhofier terkenal dengan kealimannya dalam bidang fiqh dan tasawuf. Menurut Syeikh Dhofier, antara fiqh dan tasawuf tidak bisa dipisah-pisahkan. Karena, "Sebenarnya tasawuf merupakan intisari ilmu fiqh. Sedangkan ilmu balaqhah merupakan intisari ilmu nahwu," tuturnya.

Syeikh Dhofier mengabdikan dirinya, untuk mengembangkan Pondok Pesantren Sukorejo dalam bidang keilmuan. Ia habiskan hari-harinya, untuk mengajar mulai dari kitab yang kecil sampai yang besar. Di antaranya kitab Taqrib, Zubat, Taqrir, Kifayatul Ahyar, Iqna', Fathul Wahab, dan Tafsir Jalalain. Beliau juga mengarang kitab "Syaribatus Saiqah" dan buku "Leluhur KHR. As'ad Syamsul Arifin".

Setiap Ramadhan, termasuk Ramadlan 1405, Syeikh Dhofier memberikan pengajian Tafsir Jalalain. Banyak santri, alumni, dan masyarakat yang mengikuti pengajiannya. Sayangnya, saat itu Tafsir Jalalain yang dibacanya, tidak seluruhnya tamat, hanya sepertiga kitab. Sebab beliau terserang penyakit. Pada tgl 10 Ramadlan 1405 atau 30 Mei 1985, sekitar jam dua dini hari, Syeikh Dhofier meninggal dunia. (Dimuat Tabloid Salaf)

Sumber: http://goessyam.blogspot.co.id/2009/05/syeikh-dhofier-sang-arsitek-keilmuan.html

Besok 16 Agustus 2016 Hari Terakhir Pendaftaran Santri Baru Ponpes Sukorejo

Proses pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur tahun pelajaran 2016/2017, besok selasa 16 Agustus 2016 telah memasuki hari terakhir pendaftaran.

Sebgaimana progress data satatistik pendaftar santri baru yang bisa diakses di http://www.sabarsukorejo.com/index.statistik.php, total jumlah pendaftar sementara ini (H -1) berjumlah 3245 orang dan diperkirakan akan terus bertambah hingga hari terakhir waktu pendaftaran besok.


Jadi bagi para calon santri yang hendak mendaftar di Pondok Pesantren Sukorejo ini, bisa segera mengunjungi sekretariat pendaftaran di Pondok Pesantren Sukoejo besok dengan membawa persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan.


Info selengkapnya silahkan baca brosur pendaftaran melalui link di bawah ini:

http://bnrhack.blogspot.com/2016/06/cara-pendaftaran-santri-baru-pondok.html

Informasi lebih lanjut juga bisa menghubungi nomor telepon kantor pusant pesantren di nomor (pada jam kerja):

Telepon: 0338 452666
fax: 0338 452707
email: sukorejo@gmail.com
website: http://sukorejo.com


Kami ucapkan selamat belajar bagi para santri baru yang telah mendaftar.

Sabtu, 13 Agustus 2016

4 Tips Agar Anak Betah Belajar di Pondok Pesantren

Berikut informasi tentang "4 Tips Agar Anak Betah Belajar di Pondok Pesantren", semoga bermanfaat bagi para calon dan para santri baru Pondok Pesantren.


Tidak semua orang dapat bertahan dan belajar lama di pesantren, apalagi bagi seorang anak yang masih ingin banyak bermain. Padahal umumnya orang tua sangat ingin anaknya dapat bertahan lama di pesantren sehingga dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Untuk itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh orang tua agar anaknya betah belajar di pesantren.

1. Jangan sering pulang

Sering pulang akan membuat seorang santri keenakan di rumah dan malas untuk kembali ke dayah/pesantren. Di pesantren biasanya mereka harus menjalani segala peraturan yang sangat ketat, jika mereka pulang ke rumah, peraturan yang sudah biasa mereka jalankan dan akan menjadi kebiasaan akan kembali ke bentuk semula tatkala mereka pulang kembali ke rumah. Untuk itu, pulang di sini sangat berbahaya karena akan membuat mereka enggan kembli ke dayah/pesantren dan merasa enak di rumah.

Sering pulang juga punya efek negatif yang lain yaitu terpengaruh dengan temannya sekampung. Apalagi bila banyak diantara teman mereka yang kurang baik dan mengajak kepada keburukan. Bahkan hal ini lebih besar pengaruhnya ketimbang hal di atas. Karena seseorang biasanya sulit menolak ajakan teman, lebih-lebih teman akrab. Demi seorang teman, seseorang bisa melupakan tempat ke mana dia harus kembali yaitu pesantren.

2. Jangan sering dikunjungi

Sebaiknya orang tua tidak sering-sering menjenguk anaknya, begitupun seorang anak sebaiknya jangan sering meminta orang tuanya untuk sering mengunjunginya. Karena hal ini akan membangkitkan kenangan-kenangan dengan orang tua mereka di rumah sehingga pada akhirnya akan membuat mental mereka melemah. Melemahnya mental ini merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi seorang santri, karena lemahnya mental akan memudahkan iblis untuk menghembuskan tipu dayanya bagi seorang santri. Untuk mengantisipasi hal ini sebaiknya orang tua mengantar anaknya ke pesantren yang jauh agar tidak mudah untuk dikunjungi.

3. Bergaul dengan teman yang rajin dan taat

Teman juga bisa menjadi faktor penting membuat seseorang betah belajar di pesantren. Karena tidak semua orang di pesantren itu suka tinggal di pesantren, siapa tahu ada diantara mereka yang tinggal di pesantren hanya gara-gara tekanan orang tua mereka. Jika seorang anak berkumpul dengan teman semacam ini, mereka akan terpengaruh dengan jiwa temannya itu untuk tidak betah lagi di pesantren. Hal ini sering terjadi di pesantren sehingga banyak orang yang belajar di sekolah biasa.

Untuk memilih teman ini bukan lah hal yang mudah, karena tidak semua orang cocok dan sesuai dengan kriteria teman kita. Namun ada kalanya sesuatu itu harus dibiasakan, atau hal ini bisa disiasati dengan bergaul sedikit-demi sedikit tapi teman yang bisa membawa kita ke kampung mutlak harus dijauhi. Kalau tidak, semuanya akan sia-sia.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنما مثل الجليس الصا لح والجليس السوء كحا مل المسك ونا فخ الكير فحا مل المسك إما أن يحذ يك (يعطيك) وإما أن تبتاع منه وإما أن تجد منه ريحا طيبة ونا فخ الكير إما أن يحرق ثيا بك وإما أن نجد منه ريحا خبـيثـة

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap.” [Hadits Shahih, riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad.]

4. Berkelakuan baik di pesantren

Seorang santri yang banyak bermasalah dengan pesantren, gurunya atau temannya akan membuat mereka kurang nyaman tinggal lebih lama di pesantren yang bersangkutan. Jika masalahnya semakin banyak pada akhirnya hanya ada satu jalan bagi mereka, yaitu lari sejauh-jauhnya dari tempat tersebut.

Sumber: http://cyberdakwah.com/2014/08/4-tips-agar-anak-betah-belajar-di-pesantren/

Akhir Pendaftaran Ponpes Sukorejo Kurang 4 Hari Lagi, Total Sementara Tembus 3205 Orang

Pendaftaran Santri Baru Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo yang dijadwalkan hingga tanggal 16 Agustus 2016 saat ini masih terus dibuka.


Kurang dari 4 hari (H -4) tanggal terakhir yang ditentukan tersebut, total sementara jumlah pendaftar santri baru tahun 2016 ini telah mencapai 3205 orang. Hal tersebut berdasarkan data statistik resmi yang dirilis panitia pendaftaran santri baru yang dapat diakses melalui alamat link:

http://www.sabarsukorejo.com/index.statistik.php

Santri yang mendaftar dan tercatat pada data statistik berasal hampir darai seluruh provinsi di Indonesia dan bahkan berdasarkan data di lapangan juga ada yang berasal dari luar negeri.

Bagi para calon santri atau orang tua/wali yang hendak mendaftar, segera mendatangi tempat pendaftaran di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo higga 16 Agustus 2016 mendatang.

Info selengkapnya silahkan hubungi panitia/kantor pusat pesantren di:

Telepon: 0338 452666
fax: 0338 452707
email: sukorejo@gmail.com
website: http://sukorejo.com


Sekian informasi terbaru seputar pendaftaran santri baru Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo, semoga informasi ini bermanfaat dan kami ucapkan selamat kepada para santri yang sudah mendaftar semoga betah dan juga rajin belajar.

Habib Umar bin Hafidh, Hapal Lebih Dari 100 Ribu Hadits Beserta Sanad dan Matannya

Berikut artikel tentang "Habib Umar bin Hafidh Hapal Lebih Dari 100 Ribu Hadits Beserta Sanad dan Matannya", semoga bermanfaat bagi para pembaca semua.
-------------------------------


Sebelum membahas hal ini mungkin ada baiknya jika kita mengetahui dulu gelar tingkatan-tingkatan dikalangan ahli hadits. Sebagaimana di militer ada tingkatan kepangkatan seperti Jenderal, Letnan Jenderal, Mayor Jendral, Kopral, dsb. Dikalangan Ulama Hadits pun terdapat gelar-gelar yang berbeda, sesuai dengan jumlah hadits yang dihapal oleh masing-masing ulama.

Berikut tingkatan dan gelar ulama hadits :

1. Al Hafidh (Al Hafidz) : Adalah gelar untuk ulama yang sudah hapal hadits lebih dari 100.000 hadits beserta sanad dan matannya, di zaman dahulu ada banyak ulama yang mencapai derajat ini, namun dijaman sekarang sudah sangat langka.

2. Al Hujjatul Islam : Adalah gelar untuk ulama yang sudah hapal lebih dari 300.000 hadits beserta sanad dan matannya, ulama-ulama yang sudah mencapai derajat ini diantaranya Imam Ghazali, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Nawawi, dan masih banyak lagi. Namun dizaman sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi ulama yang mampu mencapai derajat ini.

3. Al Hakim : Adalah gelar untuk ulama yang sudah hapal lebih dari 400.000 hadits beserta sanad dan matannya.

4. Al Huffadhudduniya (Al Huffadh) : Adalah gelar untuk ulama yang mampu menghapal lebih dari 1.000.000 (satu juta) hadits beserta sanad dan matannya. Ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Ahmad bin Hambal, murid dari Imam Syafii.

Itulah gelar-gelar bagi ulama hadits sesuai dengan jumlah hadits yang di hapalnya. Dari sini kita menjadi kagum, betapa jenius dan briliannya para ahli hadits ini dan betapa luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw.

Perlu diketahui, yang dimaksud hapal hadits disini bukanlah hanya hapal matannya saja (Rasulullah saw bersabda :…), bukan dari situ, namun juga harus mampu hapal dengan nama-nama perawi di rantai sanadnya (dari fulan yang mengabarkan dari fulan, dari fulan, dari fulan, dst sampai kepada Rasulullah), juga hapal tahun lahir perawinya, keadaan hidupnya, asalnya dsb. Sedangkan satu hadits yang pendek saja, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Demikianlah penjelasan singkat mengenai gelar-gelar para ahli hadits.

Kembali kepada topik, yaitu tentang Al Habib Umar bin Hafidh. Beliau adalah salah satu ulama yang mampu mencapai derajat Al Hafidh di abad ini. Ya, beliau hapal 100.000 hadits lebih beserta hukum-hukum sanad dan matannya secara keseluruhan.

Untuk mencapai derajat Al hafidh di abad 21 ini bukanlah perkara gampang. Dimana jumlah hadits diatas muka bumi yang bertebaran di kitab-kitab jika di kumpulkan tidak mencapai 100.000 hadits!. Artinya jika kita berusaha mengumpulkan seluruh buku hadits yang ada sekarang, jumlah keseluruhan haditsnya tak akan mencapai 100 ribu hadits.

Kita lihat, misalnya, Kitab Shahih Bukhari haditsnya berakhir di nomor 7.124 (jika ada pendapat lain pun jumlahnya tidak akan jauh dari angka tsb), Kitab Shahih Muslim berakhir di hadits no 3.033 (sebagian pendapat mengatakan sekitar 5000an), Sunan Abu Daud memuat sekitar 5.000an hadits, Sunan Tirmidzi memuat sekitar 4000an hadits, Sunan An Nasa’i memuat sekitar 5000an hadits, Sunan Ibnu Majah sekitar 4.300an hadits, Shahih Ibnu Hibban sekitar 3.000an hadits, Al Muwatha’ Imam Malik sekitar 1.600an hadits, Musnad Ahmad bin Hanbal sekitar 27.000an hadits, mungkin masih terdapat puluhan kitab hadits lainnya, namun jika di kumpulkan semua, Insya Allah tidak mencapai 100.000 ribu hadits, siapa pula yg mampu di zaman itu menulis semua hadits?.

Jadi bagaimana caranya seseorang bisa menghapal sebanyak 100.000 hadits di zaman ini? sedangkan jumlah semua hadits di kitab-kitab tidak sampai 100.000 hadits?.

Selain menghapal semua hadits yang sudah tertulis di kitab, tentu saja harus diteruskan untuk menghapal hadits yang belum dibukukan, cara ini hanya bisa di dapatkan dengan jalan berguru kepada ulama hadits yang menyimpan hadits yang mungkin didapatkan dari guru-gurunya, gurunya dapat dari guru dari gurunya, dst hingga kepada Rasulullah saw, namun mungkin hadits tersebut belum pernah dibukukan.

Demikianlah Guru Mulia Al Habib Umar bin Hafidh, beliau mampu mencapai derajat Al Hafidh di zaman ini. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir disemua gerak-gerik dan penampilan beliau berdasarkan sunnah dan ada landasan haditsnya. Mulai dari cara berpakaian, cara duduk, cara berjalan, cara makan, cara tidur, cara minum, cara berbicara, sampai kepada kegiatan sehari-hari beliau hampir sama dengan cara Rasulullah saw. Jadi jika kita misalnya suatu kali melihat cara duduk beliau dengan gaya A, lalu kita cari-cari dihadits apakah Rasulullah pernah duduk dengan gaya semacam itu? pasti kita akan menemukannya, ternyata ada, dan memang Rasulullah pernah melakukan duduk dengan gaya seperti itu.

Selain digelari Al Hafidh, beliau juga memiliki gelar Al Musnid, beliau digelari Al Musnid, didasarkan karena setiap menyebut hadits, beliau mampu ataupun hafal menyebut sanadnya hingga Nabi SAW atau kutubusshahih diluar kepala tanpa melihat catatan apapun.

Maka tidak berlebihan jika di bilang beliau adalah kitab hadits yang berjalan, karena hampir dari semua gerakan dan kegiatan yang beliau lakukan selalu berdasarkan sunnah, ada landasannya. Meski begitu beliau adalah ulama yang sangat tawadhu. Beliau sangat malu jika gelar Al hafidh beliau disebut. Allah Yarham Habib Munzir Al Musawa pernah menceritakan jika Sang Guru, Habib Umar bin Hafidh, pernah memberikan teguran agar tak lagi menyebutkan gelar Al Hafidh didepan namanya.

Habib Munzir bercerita “beliau (Habib Umar bin Hafidh) di usia sebelum 20 tahun sudah hafal 20 ribu hadits, dan meneruskan hingga selesai ke 100 ribu hadits, namun saat kunjungan beliau kemarin, beliau menegur saya untuk tidak menyebutkan gelar Alhafidh pada nama beliau, demikian rendah dirinya Guru Mulia kita ini, tidak suka gelarnya disebut, padahal kini untuk masuk pesantren beliau di Darulmustafa syaratnya mestilah hafal Alqur’an dan dua ribu hadits berikut sanadnya.”.

“beliau (Guru Mulia Habib Umar bin Hafidh) melarang saya menampilkan nama beliau dengan gelar Alhafidh, karena jika seluruh hadits riwayat para muhaddits seperti Imam bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dll dipadu, belum mencapai 100.000 hadits. Guru Mulia (Habib Umar) mencapai Alhafidh dari kumpulan hadits sanad musalsalah yang sudah tidak sempat / belum tercetak, masih berupa tulisan tangan ulama terdahulu, maka beliau tidak mau gelar itu ditampilkan. bagaimana tidak, kini masuk menjadi santri beliau harus hafal 2000 hadits dan hafal Al-Qur’an, dan dulu saya selalu menyebut gelar beliau dg Al Hafidh, (namun) beliau diam saja, namun setelah MR (Majelis Rasulullah) membesar, maka beliau melarang saya menyebut itu karena malu dan adab.”

Subhanallah, begitulah ketawadhuan Habib Umar.

Secara garis keturunan, Habib Umar bin Hafidh merupakan keturunan Rasulullah saw dari jalur Sayyidina Hussein bin Ali. Silsilahnya : Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Abdullah bin Abi Bakr bin Aidarous bin al-Hussain bin Syeikh Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholiqul Qasam bin ‘Alawi bin Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Ubaidallah bin Ahmad Al-Muhajjir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin As-Sajjad bin Sayyidina Hussein anaknya Sayyidatuna Fatimah Azzahra binti Rasulullah saw.

KETAWADHU’AN ALHABIB UMAR BIN HAFIDZ

Guru Mulia Al Hafidh Al Habib Umar bin Hafidh beliau pernah Berkata : “Tidaklah aku berdiri dihadapan orang-orang untuk mendakwahi mereka kecuali aku meyakini bahwa mereka lebih baik dan lebih mulia dariku, dan tidaklah aku berdiri dihadapan mereka kecuali aku mengharapkan berkah pandangan mereka dan berkah doa-doa mereka” (Demikian Wahai Saudara/i ku ke Tawadhu’an Guru Mulia kita Al Habib Umar bin Hafidz, padahal Beliau memiliki Hafalan Hadits lebih dari 100 Ribu Hadits beserta sannad dan Hukum matannya.. Dan Sungguh orang-orang yang Hafal 100 Ribu Hadits beserta sannad dan Hukum matannya , di Akhirul Zaman ini sudah bisa di hitung jari (Maksudnya , sudah Jarang), maka beruntunglah kalian yang pernah berjumpa dan mendapatkan kalam-kalam dari untaian mutiaranya.

Beliau sering sekali mengunjungi Indonesia dan sering menghadiri acara dzikir akbar di monas yang diselenggarakan oleh Majelis Rasulullah, terutama pada bulan Muharram.

Habib Umar bin Hafidh memiliki banyak murid dari seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Murid tertinggi beliau adalah Habib Ali Al Jufri. Murid-murid beliau di Indonesia adalah Habib Munzir Al Musawa, Habib Jindan, dan banyak lagi. Sedangkan Habib Munzir dan Habib Jindan juga memiliki banyak murid di Indonesia.

Sumber: http://farid.zainalfuadi.net/habib-umar-bin-hafidh-ulama-tawadhu-yang-hapal-lebih-dari-100-ribu-hadits/

Jumat, 12 Agustus 2016

Karomah As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani

Berikut artikel tentang "Karomah As Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki Al Hasani ", semoga bermanfaat bagi para pembaca semua.
-----------------------


 Al Imam As Sayyid Muhammad Al Maliki adalah salah satu dari mereka yang dicintai oleh Allah SWT, diangkat kedudukannya di sisi-Nya dan disisi makhluk-Nya sehingga beliau dicintai oleh umat ini. Beliau adalah salah satu kekasih Allah (wali Allah) yang dengannya Allah merahmati dan menjaga umat ini.

Al Imam As Sayyid Muhammad Al Maliki adalah salah satu dari mereka yang dicintai oleh Allah SWT, diangkat kedudukannya di sisi-Nya dan disisi makhluk-Nya sehingga beliau dicintai oleh umat ini. Beliau adalah salah satu kekasih Allah (wali Allah) yang dengannya Allah merahmati dan menjaga umat ini.

Banyak diriwayatkan tentang karomah beliau terutama oleh orang-orang yang dekat dengan beliau atau melihatnya secara langsung.

Salah satu murid beliau dari Indonesia, istrinya hamil tetapi keguguran. Maka dia mengadukan hal tersebut kepada beliau. Kemudian beliau mengambil rida’nya (serban yang diletakkan di atas pundak) lalu memerintahkan murid tadi untuk mengikatkannya di perut istrinya. Setelah itu ternyata istrinya tidak pernah keguguran dan Alhamdulillah melahirkan seorang anak laki-laki.
Ketika tiba musim haji, sebagaimana biasa rumah dan majlis beliau menjadi tempat berlabuhnya para jamaah haji. Di antara mereka ada yang datang memang menghadiri majlis ta’lim beliau, ada juga yang datang sekedar untuk mendapat keberkahan dengan memandang wajah beliau. Mereka yang datang dari berbagai penjuru dengan status masing-masing telah mendapat bagian dari majlis yang mulia itu.

Bahkan sudah menjadi maklum bahwa mereka yang datang ke tempat beliau akan mendapat hadiah tertentu, entah itu kitab atau bahkan uang.

Nah, ketika itu ada salah satu jamaah yang hadir melihat betapa banyak yang beliau keluarkan untuk menjamu dan menyenangkan para tamunya itu. Sehingga terbesit di hatinya, “Dari mana Sayyid Muhammad mendapatkan ini semua?”.

Tidak berapa lama beliau memanggil salah satu muridnyadan mengatakan kepadanya, “Katakan kepada oranh itu (sambil memberi isyarat kepada orang yang dimaksud), jangan bertanya darimana aku memdapatkan ini semua, tapi tanyakanlah sudah kemana aku keluarkan!”. Rupanya beliau mengetahui apa yang terbesit di hati orang tersebut.

Dan termasuk karomah beliau, setiap akan ziaroh ke kota Al madinah Al Munawwarah selalu dengan isyarah dari Nabi Muhammad SAW melalui mimpi beliau atau salah satu dari muridnya. Dan seringkali beliau berziaroh kepada Rasulullah SAW karena mendapat perintah atau isyarah dari Rasulullah SAW sendiri.

Demikian hal (keadaan) hamba yang dicintai oleh Rasulullah, beliau SAW senantiasa memperhatikan dan menjaganya.

Pernah ketika Abuya melawat ke Singapura beliau berniat akan berangkat ke indonesia. Maka beberapa murid beliau di Indonesia terutama yang di Jakarta sudah bersiap-siap di Bandara untuk menyambut kedatangan Ulama kharismatik tersebut. Memang kehadiran beliau di Indonesia sangat diharapkan oleh para pecintanya, setelah sekian lama beliau tidak berkunjung ke Indonesia.

Akan tetapi apa mau dikata secara tiba-tiba beliau membatalkan kunjungannya ke Indonesia dan langsung pulang ke Makkah. Ketika ditanya perihal itu, beliau menjawab bahwa beliau diperintah Sayyidah Aisyah (melalui mimpi) untuk langsung kembali ke Makkah Al Mukarramah.

Dan yang demikian ini tidak terjadi sekali dua kali tetapi berkali-kali. Bisa dikatakan bahwa setiap akn melakukan safar beliau selalu beristikharah terlebih dahulu, menunggu adanya isyarah.

Suatu saat salah satu orang menyarankan agar di rumah beliau di gali sumur untuk kebutuhan air sehari-hari. Kemudian Abuya menyambut baik saran itu, lalu beliau memerintahkan salah satu muridnya untuk beristikharah agar di tentukan di bagian mana yang akan digali.

Setelah istikharah dan mendapat isyarah, si murid menunjuk salah satu tempat di halaman rumah beliau di Rushaifah tepatnya di pojok timus di samping pintu gerbang. “Insya Allah disini tempatnya”, kata si murid.

Maka dimulailah pengeboran sumur itu, Subhanallah apa yang di dapat oleh si murid dengan isyarah tadi memang kenyataan. Keluar air yang bersih dan deras sehingga sampai saat ini dipakai untuk kebutuhan sehari-hari keluarga dan murid-murid beliau. Padahal kita tahu kondisi tanah kota Makkah, tandus dan berpasir. Kadang-kadang untuk mengebor sumur mencapai kedalaman 100 meter lebih. Tetapi tidak dengan sumur di rumah beliau.

Ada satu karomah beliau yang dirasakan betul dengan nyata oleh salah seorang muridnya yang saat ini berdomisili di Malang.

Sekitar tahun 1998 si murid yang sudah berkeluarga ini datang kepada beliau untuk meminta nama anak pertama yang masih berada dikandungan istrinya.”Kamu ingin meminta nama?”,tanya Abuya.”Benar wahai Abuya”,jawab si murid.

Kemudian Abuya mengatakan,”Mana tangan kamu, kemari!”. Si murid memberikan tangannya kepada beliau lalu beliau memegang telunjuk si murid sambil berkata,”Pertama laki-laki Muhammad Anas”. Kemudian memegang jari tengah si murid,”Kedua Muhammad Alawi”. Lalu memegang jari manisnya,”Ketiga Abdullah”, kata Abuya.

Ketika memegang jari kelingking si murid beliau terdiam sejenak lalu berkata,”Insya Allah perempuan”.

Subhanallah, apa yang dikatakan oleh beliau semua terjadi tepat sesuai dengan yang beliau katakan. Anak pertama lahir laki-laki, diberi nama Muhammad Anas, kedua juga laki-laki, ketiga juga laki-laki dan yang keempat adalah perempuan. Padahal saat itu mereka semua belum lahir ke dunia ini. Maha suci Allah yang telah membuka hijab kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Diantara karomah beliau yang sangat jelas adalah dimana beliau berada, beliau akan dihormati & disanjung. Dalam pertemuan ulama dibelahan dunia islam atau majlis-majlis ilmu manapun kehadirannya selalu dibanggakan. Tak terkecuali dihadapan penguasa atau pemerintah.

Suatu ketika, di Makkah diadakan pertemuan para tokoh & ulama yang juga dihadiri oleh raja & para aparat penting pemerintahan. Mereka datang dari kota-kota Hijaz.

Raja Kerajaan Arab Saudi saat itu Raja Fahd bin Abdul Aziz tiba ditempat pertemuan & duduk diposisi terdepan dengan kursi khusus yang disiapkan. Disamping kanan kirinya adalah tokoh-tokoh & ulama terkemuka saat itu.

Tidak berselang lama, AsSayyid Muhammad AlMaliki dengan beberapa orang yang mengikutinya tiba ditempat. Begitu Raja melihat kehadiran beliau. Tampaklah kewibawaan beliau yang besar, maka Raja Fahd berdiri menyambut kedatangan Abuya. Otomatis ketika Raja berdiri. Maka semua orang yang ada ditempat itu, baik kalangan pemerintahan maupun ulama & tokoh ikut berdiri. Seakan-akan beliaulah yang ditunggu kehadirannya, padahal disana banyak ulama & tokoh terkemuka.

Kemudian Raja Fahd mempersilahkan Abuya duduk disampingnya, tentu dibarisan paling depan. Sekalipun tadi sepertinya semua kursi sudah terisi, tetapi untuk beliau selalu ada kursi kosong. Maka disiapkanlah kursi untuk tempat duduk beliau.

Siapa yang menjadikan Raja begitu hormat kepada beliau? Siapa yang menyuruh mereka berdiri menyambut kehadirannya & siapa yang menggerakkan hati mereka untuk cinta kepada beliau? Dialah Allah SWT Raja Diraja Yang Maha Kuasa.

Maka tidaklah berlebihan jika seorang bijak berkata,”Sebenar-benarnya raja di dunia ini adalah para ulama”. Memang demikianlah kenyataannya, ulama yang ilmunya barokah & manfaat pasti akan dihormati & dicintai dimanapun berada. Merekalah Auliya Allah, kekasih-kekasih Allah.

Dan daripada bukti ketinggian maqam beliau di sisi Allah & Rasul-Nya, AsSayyid Muhammad AlMaliki tergolong salah satu hamba yang mendapat i’tina’ khasshah (perhatian istimewa) dari Baginda Nabi Muhammad SAW dalam segala gerak-gerik & kehidupan beliau, sekalipun pada hal-hal yang sepele atau kecil.

Maqam seperti ini bukanlah sembarang maqam, sebab hanya hamba-hamba pilihan Allah-lah yang mendapatkannya, seperti AlHabib Abdullah bin Alawi AlHaddad.

Hal ini tampak jelas pada akhir hayat beliau, dimana beliau tidak memotong rambut & tidak memacari jenggotnya. Guru kami AlUstadz AlHabib Sholeh bin Ahmad Al Aydrus ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 1424 H dengan beberapa murid-murid Abuya lainnya datang untuk menziarahi beliau.

Lalu Ustadz Sholeh bertanya kepada Abuya kenapa beliau tidak memacari jenggotnya. Abuya diam tidak menjawab. Ditanya kedua kalinya, beliau tetap diam dan ketika ditanya ketiga kali, beliau berkata,”Rasulullah SAW melarangku”.

Maksudnya, Rasulullah melarang beliau untuk memacari jenggot beliau agar tampak ubannya, yang memberi isyarat bahwa manusia itu akan tua & sebentar lagi akan menghadap Allah SWT. Siapapun & bagaimanapun kedudukannya akan menghadapi kematian. Rupanya itu adalah pertanda dekatnya ajal beliau.

Karena memang kenyataannya demikian, pertemuan beliau dengan murid-muridnya yang datang dari Indonesia waktu itu adalah pertemuan terakhir mereka di dunia dengan sang maha guru. Sembilan bulan setelah itu, tepatnya di bulbm Ramadhan 1425H beliau dipanggil ke hadirat Allah SWT.

Apa yang terjadi kepada beliau ini mengingatkan kita kepada AlHabib Abdullah bin Alawi AlHaddad. Dimana di akhir hayat beliau, beliau memanjangkan rambutnya, tidak memotongnya, ketika ditanya alasannya, beliau mengatakan bahwa yang beliau lakukan itu karena perintah Rasulullah SAW.
Bahkan daripada karomah dan ketinggian maqam Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki, beliau sudah mencapai maqam bertemu Rasulullah secara yaqadhah (terjaga bukan mimpi) sebagaimana yang di ketahui oleh beberapa murid beliau.

Pernah di kisahkan, ketika Abuya sedang berada di Madinah, salah satu murid beliau mendapat tugas melayani kebutuhan Abuya, antara lain sarapan pagi yang biasanya berupa telor goreng mata sapi, roti, keju, susu segar, dan lain-lain.

Antara kamar pribadi Abuya yang sekaligus berfungsi sebagai kantor dan dengan dapur pribadi beliau, hanya dibatasi oleh lorong kecil. Artinya, setiap orang yang berada di dapur lantas akan masuk ke kamar Abuya, pasti melewati lorong kecil itu.

Tatkala di tangan murid itu sudah tersedia talam berisi peralatan dan menu sarapan pagi Abuya, dan sudah berada di lorong kecil, tiba-tiba teman seniornya mencegah langkahnya, agar tidak masuk ke kamar Abuya terlebih dahulu, namun di minta untuk ikut mendengarkan secara seksama.

Dengan penuh penasaran, murid tadi ikut memperhatikan ajakan teman seniornya tersebut, ternyata terdengar suara tangis lirih Abuya namun cukup jelas dari dalam kamar itu. Karena itulah mereka berdua tidak berani masuk kamar sebelum dipanggil oleh Abuya.

Selang sepuluh menit berikutnya, tiba-tiba Abuya memanggil dengan suara yang agak parau: “Aulaad, fieen futhuur..?” (Anak-anak, mana sarapannya). Kemudian masuklah mereka berdua, dengan membawa barang yang menjadi tugasnya masing-masing.

Setelah mereka berdua duduk di depan Abuya untuk menata menu sarapan dan keperluan lainnya, maka Abuya bertanya: “Tahukah kalian apa yang baru saja aku alami?” Murid senior itupun menjawab: “Tidak tahu wahai Abuya”.

Abuya berkata: “Wahai anak-anakku, baru saja aku ditemui oleh Rasulullah SAW secara langsung..!”.

Dan daripada karomah Abuya Al Imam As Sayyid Muhammad Al Maliki, banyak murid dan pecinta beliau yang bermimpi Rasulullah ternyata melihat sosok Rasulullah nyaris sama dengan sosok Abuya Al Maliki. Inilah bukti nyata adanya I’tina’ khasshah (perhatian khusus) dari Rasulullah SAW untuk beliau.

Seperti di kisahkan oleh salah satu murid beliau yang baru datang dari Indonesia. Murid baru itu dengan teman-temannya di tempatkan di ‘Utaibiyyah, Makkah. Setelah satu bulan mereka di pindah oleh Abuya ke Madinah.

Ketika tiba di kota Madinah, sebelum berziarah kepada Rasulullah, mereka menempati syuqqah Babul ‘awali hingga esok hari. Di malam hari, murid yang baru itu bermimpi. Dalam mimpinya dia bersama teman-temannya pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Sesampainya di depan makam, ternyata sudah banyak orang-orang yang menanti dan mengitari makam tersebut, seakan-akan mereka menunggu seseorang yang akan keluar dari dalam makam. Murid itu pun ikut serta bergerombol bersama mereka, tiba-tiba dari arah belakang terjadi keributan kecil, dan orang-orang semua melongokkan kepala untuk menyaksikan apa yang terjadi.

Ternyata di sana telah berdiri seseorang yang sosoknya nyaris sama dengan Abuya, As Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, sosok itu dikitari kerumunan orang, yang berteriak-teriak ramah lantaran memanggil-manggil, Rasulullah…Rasulullah…Rasulullah…”, entah mengapa, seketika itu juga si murid meyakini bahwa yang datang tiada lain adalah perawakan Abuya, dengan segala bentuk pakaian yang biasa melekat pada diri Abuya. Secara spontan pula murid itu mendekati dan merangkul Rasulullah SAW.

Terjaga dari tidur, dia duduk termenung memikirkan apa yang baru saja di alaminya dalam mimpi yang relative singkat itu, dan dia tidak berani bercerita kepada siapapun, sebab takut salah. Hanya saja mimpi itu terus terbayang dalam benaknya, hingga pada suatu saat dia bertanya kepada salah seorang teman seniornya, apakah ada di antara murid-murid Abuya yang pernah mimpi bertemu Rasulullah SAW?

Pada akhirnya dia mendapat keterangan, ternyata banyak juga yang mengalaminya, dan di antara mereka yang mengalami itu mengatakan bahwa sosok Rasulullah SAW yang sering muncul dalam mimpi mereka, adalah nyaris sama dengan sosok Abuya As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani.

Sebelum beliau wafat, berpulang ke Rahmat Allah, beliau berdoa tiga hal, yaitu: ingin meninggal diantara murid-murid dan kitab-kitabnya, yang menyolati di Masjidil Haram adalah imam yang cinta kepada beliau bukan yang benci atau memusuhinya dan meminta agar jenazahnya sebelum dikebumikan di Ma’la bisa masuk di makam Sayyidatuna Khadijah (Istri Baginda Rasulullah SAW).

Dan pada kenyataannya semua yang beliau harapkan itu diwujudkan oleh Allah SWT. Demikianlah salah satu bukti kecintaan Allah kepada beliau. Walaupun sempat masuk Rumah Sakit karena sakit yang datang tiba-tiba, tetapi ketika akan wafat beliau meminta agar di bawa pulang dan akhirnya beliau wafat di antara murid-murid dan kitab-kitabnya.

Ketika akan di shalati di Masjidil Haram, ketika itu imamnya kebetulan adalah orang yang tidak beliau sukai. Tetapi Subhanallah ketika jenazah di masukkan ke dalam masjid, si imam tadi seakan tidak bisa mengeluarkan suara, sehingga dia mundur dan di gantikan oleh iman lain yaitu Syeikh Muhammad Abdullah Subayyil, seorang Imam yang dekat dan cinta dengan beliau.

Ketika puluhan ribu manusia mengiringi kepergiannya, keranda di usung dari Masjidil Haram menuju komplek pemakaman Ma’la. Lautan manusia meliputi jalan-jalan saat itu bergema tahlil dan dzikir. Subhanallah ketika dekat dengan makam Sayyidatuna Khadijah tiba-tiba entah bagaimana, pintu yang menutup makam Sayyidatuna Khadijah terbuka sehingga jenazah beliau dapat memasukinya, baru kemudian di keluarkan kembali untuk di bawa ke Ma’la.

Beliau adalah seorang yang kasyaf artinya Allah membuka untuk beliau sesuatu yang tertutup untuk orang lain, sehingga sesuatu itu begitu tampak jelas bagi beliau bahkan perbuatan manusia pun tampak di hadapannya. Hal ini kurang beliau sukai sehingga seringkali beliau meminta kepada Allah agar menghilangkan kasyaf tersebut.

Beliau pernah berkata kepada guru kami, Al Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad Al Aydrus, “Wahai Sholeh sesungguhnya perumpamaan maqam kasyaf dan jadzab di bandingkan dengan maqam yang di atasnya seperti anak perempuan kecil yang senang dengan bonekanya. Dia akan merasa cukup dengan boneka itu daripada sesuatu yang lebih berharga dan lebih mahal.”

Tetapi sesungguhnya karomah beliau yang besar justru terdapat pada keistiqomahan beliau dalam beribadah, berdakwah, mengajar dan melayani umat ini. Cukup menunjukkan kebesaran beliau dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah menjadikan ilmu beliau manfaat, barokah dan murid-muridnya menyebar ke seluruh penjuru menjadi ahli dakwah, ulama dan penyambung lidah Rasulullah SAW.

Demikian pula dengan karya-karya beliau yang terus akan di manfaatkan dan di ambil hikmahnya oleh manusia sepeninggal beliau. Banyak para Auliya’ justru karomah mereka tampak pada karya-karya tulisnya seperti Imam An Nawawi dan juga tampak pada keberkahan wirid-wirid yang di susunnya seperti Imam Abul Hasan Asy Syadzili.

Beliau memang sudah meninggalkan dunia yang fana ini tetapi tetap hidup di hati para pecintanya. Bahkan para Ulama dan Auliya mereka tidaklah mati begitu saja, mereka tetaq hidup di sisi Allah dan tetap memperoleh rizki. Ruh mereka bebas berjalan kemana mereka inginkan sama ketika mereka masih hidup di dunia. Sebab ruh para kekasih Allah tidak di belenggu atau di ikat.

Bahkan hubungan beliau dengan murid-murid dan para pecintanya terus bersambung sekalipun sudah berpindah alam. Banyak di antara murid beliau yang bermimpi mendapatkan petunjuk dan arahan beliau. Ketika mereka mendapatkan suatu masalah, beliau datang dalam mimpi muridnya untuk membantu memberikan solusi. Demikianlah para Auliya yang tidak pernah putus mendapat rahmat Allah sekalipun sudah memasuki alam barzakh.

Mudah-mudahan Allah mengumpulkan kita bersama beliau dan para Auliya dalam keadaan ridha dan di ridhai oleh Allah SWT. Aamiin.

Sumber:
- Mutiara Ahlu Bait Dari Tanah Haram, Biografi Prof. DR. As Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani, Makkah. Hal 61-73
- http://www.almuhibbin.com/2013/04/karomah-as-sayyid-muhammad-bin-alawi-al.html

Kamis, 11 Agustus 2016

Ketika ribut-ribut soal buku PMP, Kiai As’ad tanpa banyak bicara langsung menemui Pak Harto

Kiai As’ad, yang rajin membaca dan berlangganan enam koran ditambah sebuah majalah mingguan berdarah Madura asli. Lahir tahur 1897 di Mekah ketika orangtuanya menunaikan ibadat haji. Satu satunya adiknya, Abdurrahman juga lahir di kota suci itu dan bahkan menjadi hakim dan meninggal di Arab Saudi.

Pada umur 6 tahun, oleh ayahnya, K.H. Syamsul Arifin, seorang ulama besar di Madura, K.H. As’ad ditaruh di Pesantren Sumber Kuning, Pamekasan. Menginjak usia 11 tahun, As’ad diajak ayahnya menyeberangi laut dan membabat hutan di sebelah timur Asembagus yang waktu itu terkenal angker “Dulu tidak ada orang, kecuali ha- rimau dan ular berbisa,” kata Kia As’ad mengenang. Di bekas hutan perawan itu, mereka membangur permukiman yang kemudian menjadi Desa Sukorejo.

Pada usia 16 tahun, bersama seorang adiknya, Abdurrahman. As’ad dikirim kembali ke Mekah dengan harapan setelah pulang mewarisi Pesantren Sukorejo. Hanya 3 tahun bertahan di Mekah, ia kembali ke tanah air dan masih belajar di beberapa pesantren. Di berbagai pondok ini, bukan cuma agama yang dipelajari, juga ilmu silat, ilmu kanuragan.


As’ad juga pernah belajar di Pondok Tebuireng pimpinan K.H. Hasyim Asyari, dan menjadi kurir ulama ini menjelang lahirnya NU tahun 1929. Setelah NU berkembang, ia ternyata tak terpaku hanya pada NU. As’ad juga memasuki Sarekat Islam selama pernah menjadi anggota organisasi Penyedar – yang didirikan Bung Karno. Di sinilah, As’ad kenal dekat dengan presiden pertama ini. Di tengah gejolak perjuangan itu (1939), K.H. As’ad menyunting gadis Madura, Zubaidah. Dan kini dikaruniai lima anak. Si bungsu, satu-satunya lelaki, Ahmad Fawaid, kini baru 14 tahun. Empat anak perempuannya semua sudah kawin dan memberinya sembilan cucu serta tiga buyut.

Pesantren Sukorejo di bawah K.H. As’ad kini berkembang dengan pesat
Terletak di pinggir jalan raya Situbondo Banyuwangi, 7 km sebelah timur Kecamatan Asembagus. Dipintu gerbangnya tertulis bahasa Arab Ahlan Wa Sahlan dan bahasa Inggris Welcome. Di pondok ini selain dikembangkan pendidikan gaya pesantren, juga ditumbuhkan pendidikan umum, SMP, SMA, dan Universitas Ibrahimy. Santri yang mengaji d pesantren sekitar 3.000, dan jika dihitung semua siswa (santri dan murid sekolah umum) berjumlah 4.100 orang. Kompleks ini dijuluki “kota santri”. Apalagi ada lapangan di tengah pondok dan santri setiap saat terlihat main bola – memakai sarung.

Di pondok ini ada sebuah masjid yang tidak begitu besar. Tetapi As’ad membangun masjid yang jauh lebih besar di luar kompleks Barangkali dimaksudkan agar para santrl lebih menyatu dengan masyarakat sekitarnya.

Kiai yang rajin memelihara tanaman hias ini pernah mempunyai seekor kuda putih warna kegemarannya. “Nabi Ibrahim kudanya juga putih,” katanya tentang kuda itu. Sayang, kuda itu telah mati dan belum ditemukan kuda putih sebagai pengganti. Namun, ada “kuda” lebih gesit yang dimiliki Kiai sekarang, yaitu mobil kolt. Juga putih.

Selain rajin mengurusi enam ekor ayam hutannya, kiai ini juga memelihara seekor burung beo yang pintar berbicara. Jika ada tamu yang datang, burung itu memberi salam: assalamu’alaikum. Dan bila sang tamu membalas tegur sapa sang beo, biasanya tamu lantas ketawa, lantaran si beo membalas dengan kata-kata assooiiii … Tapi burung beo itu pun, menurut santrl di sana, menyerukan Allahuakbar bila bergema suara azan. “Burung ini pemberian orang sebagai hadiah,” kata seorang pembantu Kiai As’ad.

Toh ada yang khawatir tentang pesantren yang populer di Jawa Timur ini. Termasuk Kiai As’ad sendiri. Pasalnya, adalah soal usia Kiai yang sudah cukup sepuh, sementara pewaris satu-satunya, Ahmad Fawaid, masih sangat muda. “Saya tak tega menyekolahkan Ahmad ke Arab Saudi, usianya masih muda – mungkin tiga tahun lagi,” ujar Kiai. “Sang putra mahkota”, walau tekun juga mengaji bersama teman sebayanya, kamarnya penuh dengan kaset, radio, televisi, bahkan video. Sebagai anak muda, “hampir setiap saat ia tenggelam dengan hiburan itu,” ujar seorang pembantu Kiai. Untuk Ahmad Fawaid memang disediakan kamar khusus yang jauh dari rumah papan Kiai As’ad. Tapi sejak beberapa waktu lalu telah ditunjuk K.H. Dhofir Munawar, menantu Kiai As’ad dari anak pertamanya, sebagai pengelola pesantren sehari-hari.

SETELAH menjadi anggota Konstituante (1959), ia tak lagi tergiur pada jabatan politik. Ia menolak jabatan yang disodorkan Bung Karno untuk menjadi menteri agama di zaman Nasakom. Bahkan, sebagai ulama yang cukup terpandang di kalangan Nahdatul Ulama (NU), ia juga menolak ketika ditawari untuk menjadi rois am, bahkan rois akbar.

Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, agaknya memang hanya tertarik mengurusi pesantrennya. “Saya ini bukan orang politik, saya ini orang pesantren,” kata kiai berusia 86 tahun itu. Lebih-lebih karena pengalaman selama menjadi anggota Konstituante (1957-1959): selama itu pula pesantrennya sangat mundur.

Bukan berarti Kiai As’ad menyembunyikan diri dari keriuhan politik dan hingar-bingar NU, yang sampai kini tak pernah selesai tuntas. Terbukti dari kegiatannya menerima tamu yang tak putus-putusnya. Banyak pengamat menilai, Kiai As’ad adalah salah seorang dari sedikit ulama yang pandai menjembatani jika ada “ketegangan” antara pemerintah dan umat Islam, khususnya NU. Ketika ribut-ribut soal buku PMP, Kiai As’ad tanpa banyak bicara, langsung menemui Pak Harto. “Bagaimana Pak, buku PMP ini ‘kan bisa merusak akidah umat Islam,” kata Kiai mengulang pembicaraan yang sudah setahun lebih itu. Berbicara begitu, Kiai As’ad memberi beberapa contoh yang semestinya dikoreksi. Pak Harto, menurut Kiai, berjanji akan menyelesaikannya. “Ternyata buku itu akhirnya disempurnakan,” kata Kiai, yang sudah 15 kali ke Mekah.

Di saat ribut-ribut soal asas tunggal Pancasila, awal Agustus, untuk kesekian kalinya, Kiai As’ad menemui Pak Harto di Cendana. Pertemuan itu, yang dihadiri juga oleh Menteri Agama K.H. Munawir Syadzali yang direncanakan cuma 15 menit, mekar menjadi 1 jam. Kepada Presiden ditegaskan pendirian NU yang menerima Pancasila. “Ini penting ditegaskan, karena NU sejak semula berlandaskan Pancasila dan UUD 45,” tuturnya. Presiden, menurut Kiai, manggut-manggut. Bahkan Kiai As’ad lebih menegaskan, “Islam wajib menerima Pancasila, dan haram hukumnya bila menolaknya. Sila pertama itu selaras dengan doktrin tauhid dan Qulhuallahu Ahad.”

Dalam kemelut NU, Rois Am K.H. Ali Ma’shum, bersama pengurus NU lainnya, mondar-mandir ke Situbondo. Kiai As’ad dipercayai menjadi “penengah” penyelesaian kericuhan setelah K.H. Idham Chalid, sebagai pucuk pimpinan PBNU, menyatakan mundur – tapi kemudian mencabut pernyataan itu.

Di pesantrennya, Kiai menempati rumah sederhana berdinding papan berukuran 3 x 6 meter. Rumah yang terletak di antara asrama santri wanita dan santri pria itu tergolong paling jelek di Desa Sukorejo. Tapi tidak sembarang tamu boleh berkunjung ke rumah itu – sebab yang diterima di sana hanya yang sudah dianggap keluarga. Para pejabat, dari lurah sampai menteri, diterima di rumah yang lebih bagus, milik anaknya. Di rumah si anak tersedia ruang berukuran sekitar 30 m2 yang digelari permadani untuk tamu yang ingin bermalam, atau terpaksa bermalam, menanti giliran menemui Kiai, yang semua gigi atasnya sudah tanggal.

Di pesantren seluas 7 hektar inilah nanti, November 1983, akan berlangsung Musyawarah Nasional NU. Untuk itu, semua biaya ditanggung pesantren pimpinan Kiai As’ad ini. Warga NU di Situbondo dan Bondowoso langsung terlibat. “Akan saya perintahkan untuk menyumbang beras satu kilogram setiap orang,” kata Kiai. Beras itu dimaksudkan untuk konsumsi peserta musyawarah nasional yang diperkirakan lebih dari seribu orang. Kiai yang tampak sehat ini tak menjelaskan agenda munas itu.

Sumber: http://5antri.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-kh-asad-situbondo.html

Terungkapnya Kewalian KHR. As'ad Syamsul Arifin Ponpes Sukorejo Situbondo

Tidak ada yang menyangka, ternyata Mursyid 13 thariqah dan ulama besar NU ini adalah seorang Wali Quthub (pimpinannya para wali). Berikut adalah kesaksian dari Kyai Mujib, putera KH. Ridwan Abdullah pencipta lambang NU.

Kyai As'ad laksana samudera tak bertepi. Beliau semakin didekati kian bertambah tidak kelihatan. Saya sangat berpengalaman. Bahkan saya pernah mencium seluruh tubuhnya, kecuali yang memang tidak boleh.

Setelah saya pijat selama hampir 3 jam, beliau tertidur sangat pulas. Saya ciumi sekujur tubuhnya, dari ujung kepala sampai telapak kaki. Saya tidak mendapatkan bau apa-apa. Sampai hati saya berkata, "beliau ini ada atau tidak ada? Apakah ini orang yang dikatakan sudah berada di maqam fana?"


Hampir 20 tahun saya hidup bersama beliau. Tambah dekat dan tambah lama, semakin tidak kelihatan, sulit ditebak. Saya baru diberi tahu dan mengerti, baru yakin siapa beliau ini, setelah saya sampai di Madinah tahun 1987 saat ditunjuk sebagai petugas haji oleh pemerintah. Sebelum berangkat haji, saya pun minta izin ke beliau.

"Pak Mujib, pergi haji Sampean ini sunnah tapi sampai (datang) ke Haramain tahun ini wajib (fardhu kifayah). Kalau Sampean tahun ini tidak datang ke tanah Haram, dosa Sampean besar," kata Kyai As'ad.

"Kenapa?" tanyaku.

"Jawabnya nanti di sana, bukan di sini," kata Kyai As'ad. "Namun Sampean jangan berkecil hati. Sampean saya pinjami ijazah. Setelah pulang, ijazah tersebut harus dikembalikan. Tidak boleh dipakai terus."

"Kalau saya sudah hafal bagaimana, Kyai?" tanyaku.

"Ya terserah, kalau Sampean jadi bajingan."

Sampai larut malam, saya tidak diperbolehkan pulang. Saya disuruh pulang besok pagi. Tapi ijazah itu, tidak 'dipinjamkan' sampai saya tertidur. Ternyata, dalam tidurku itu saya ditalqin ijazah. Lalu saya ditanya apakah masih punya wudhu. Saya jawab, masih punya. Baru kemudian saya ditalqin.

Menjelang Shubuh saya pun terbangun. Ternyata di bawah bantal ada secarik kertas yang ditulis oleh Kyai As'ad. Bunyinya persis seperti ijazah dalam tidur tadi. Mungkin beliau takut saya lupa.

Setelah saya pulang dari haji, beliau sudah ada di rumah saya ingin mengambil ijazah itu. "Saya tidak minta oleh-olehnya, Pak Mujib. Hanya saja ijazah itu harus dilembalikan," kata Kyai As'ad. Mungkin, ijazah itu takut disalahgunakan.

Alhamdulillah saya berhasil menunaikan ibadah haji. Ada beberapa peristiwa yang saya alami, yang hanya bisa saya ceritakan kepada Kyai As'ad. Semuanya saya ceritakan. Lalu saya bertanya: "Ada satu Kyai, yang menyangkut Panjenengan."

"Lho, sampean ke sana mau ngurus saya juga ya?" Tanya Kyai As'ad dengan nada marah.

Saya pun dimarahi oleh beliau. "Sampean ke sana dengan saya pinjami ijazah segala, jadi ngobyek saya juga ya? Kurang ajar Sampean ini!" katanya agak marah.

"Ya tidak begitu, Kyai. Masa saya sudah ikut Panjenengan hampir 20 tahun, kok tidak tahu siapa sebenarnya Panjenengan?" jawabku.

"Lha iya, Sampean ngobyek, ingin tahu saya. Apa hasilnya?"

"Saya disuruh membacakan ayat di hadapan Panjenengan!"

"Ayat apa?" Tanya Kyai As'ad.

"Ayat al-Quran. Dengan syarat, kalau Panjenengan mau. Kalau tidak mau ya tidak usah!" jawabku.

"Mana ada kyai yang tidak mau dibacakan al-Quran? Gila Sampean ini!" kata Kyai As'ad.

"Lha wong 'Bos' di sana bilang begitu, Kyai," kata saya melucu.

Ceritanya, sewaktu di tanah Haramain saya bertemu 'Bos'. Kata Bos: "Kalau Kyai As'ad tidak mengaku siapa sebenarnya beliau, bacakan ayat ini. Dengan catatan beliau harus mau."

"Kalau tidak mau, ya saya tidak akan pernah tahu siapa Kyai As'ad," jawabku. Karena itu saya pun mendesak 'Bos' itu.

Lalu 'Bos' berkata: "Ya... tidak maunya itu ngakunya!"

Saya lalu membacakan ayat yang dimaksud di hadapan Kyai As'ad:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

"Maka bagaimana jika Kami mendatangkan saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka?" (QS. an-Nisa ayat 41).

Belum selesai saya membaca ayat tersebut, beliau menangis sejadi-jadinya, menjerit sampai bercucuran air mata. Inilah pengakuan yang tidak bisa dihindari. Saya tembak di tempat dengan resep 'Bos' tadi. Ya, jangan tanya siapa 'Bos' tersebut.

Saya tunggu. Beliau nangis hampir satu jam, itu pun masih terisak-isak seperti anak kecil. Lalu saya diajak salaman. Ketika saya mau mencium tangan beliau, tidak diperbolehkan. "Kali ini Sampean tidak saya izinkan mencium tangan saya," kata Kyai As'ad masih dalam keadaan terisak.

Saya pucat. "Wah, haji saya kali ini mardud (tertolak)," begitu dalam benak saya. Mengapa? Sebab saya telah membuka rahasia besar, yang di dunia ini orangnya hanya satu. Wali Quthub ini, di dunia hanya satu. Itu rahasianya saya buka, walaupun saya disuruh 'Bos'.

"Pak Mujib, apa Sampean tidak keberatan belas kasihan sama saya. Saya minta belas kasihan Sampean. Saya minta belas kasihan Sampean agar jangan sampai ngomong kepada orang lain selama saya masih hidup, siapa diri saya ini!" Pinta Kyai As'ad kepadaku. (Disadur dari buku berjudul "Kharisma Kyai As'ad di Mata Umat").(padhang-mbulan.org)

Sumber: http://www.muslimoderat.com/2015/08/terungkapnya-kewalian-sang-ulama-islam.html

Selasa, 09 Agustus 2016

Biografi KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy Pengasuh ke-IV Ponpes Sukorejo Situbondo

Februari 1980 Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki mewakili Kerajaan Mekkah, Arab Saudi berkunjung ke Sukorejo. Ditemani Kiai As’ad dan beberapa orang penting lainnya, Abuya Sayid Muhammad berbicara panjang lebar dengan Kiai As’ad waktu itu. Ditengah kumpulan orang-orang penting itu, hadir sosok bayi mungil yang berumur sekitar 20 hari. Bayi mungil yang yang masih suci tanpa noda itu sepertinya ikut larut menyimak pembicaraan kumpulan orang-orang besar tersebut.

Pembicaraan yang asyik mansyuk itu berjalan gayung tanpa terasa mereka sudah berbicara beberapa jam dan orok bayi itupun masih setia ditengah mereka yang serius berbicara.

Usai membicarakan tema-tema penting, Kiai As’ad-dengan berharap kepada Allah SWT agar bayi yang sedari tadi mengupingi isi pembicaraan itu menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat-memohon kepada Abuya Sayid Muhammad agar sudi memangku anak itu walau sebentar.


Abuya Sayid mengabulkan permintaan Kiai As’ad. Bayi mungil itupun sudah ada dipangkuan Sang Sayid. Dalam pelukan Sayid, Bayi itu merasa nyaman dan Sayidpun tanpa terasa telah terbuai dalam cinta sang bayi. Karena Sayid telah mabuk cinta pada Bayi mungil itu, Sayidpun merasa ingin memiliki bayi itu.
Tanpa merasa ada beban, Sayid mengutarakan keinginannya untuk segera bisa memiliki dan bercengkrama dengan sang Bayi. “jika anak ini kelak sudah dewasa, biarkan ia bersama saya” ungkap Abuya Sayid Muhammad.

Keluarga, orang tua dan semua orang yang menyayangi bayi mungil tadi itu dengan penuh keihklasan menyetujui dan mengiyakan kehendak Sang Sayid

Ia, Bayi yang sempat berada dipangkuan Sayid itu tidak lain adalah sang putra Mahkota, Putra kesayangan pasangan Nyai Hj. Zainiyah As’ad dengan KH. Dhofier Munawar, yang bernama Ahmad Azaim Ibrahimy.

Baca juga:  KHR. Dhofier Munawar, Sang Arsitek Keilmuan Pondok Pesantren Sukorejo

KHR. As’ad Syamsul Arifin, Sang Kakek bayi beruntung itu ternyata sangat serius menanggapi apa yang telah diungkapkan sayid. Bagi Kiai As’ad. Ditangan sayid, cucunya itu kelak akan menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat, lentera bagi kegelapan. Kiai As’ad tidak pernah lelah berpesan kepada siapapun, termasuk ke Ummi bayi tadi, Nyai Hj. Zainiyah As’ad, agar Ahmad Azaim Ibrahimy kecil diserahkan ke Sayid. Keseriusan Kiai As’ad agar cucunya itu diserahkan ke Sayid juga disampaikan Kiai As’ad saat beliau sudah mulai sakit-sakitan. Bulan Agustus, di Rumah Sakit Islam Surabaya, detik-detik akhir dari wafatnya, Kiai As’ad kembali mengingatkan kepada semua orang yang ada disana agar cucunya, Ahmad Azaim Ibrahimy betul-betul diserahkan kepada Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki.

Menjadi Santri Perantau

Pihak keluarga sepakat untuk mengirim Ahmad Azaim Ibrahimy ke Tanah Suci Mekkah. Namun pihak kelurag tidak ingin terburu-buru memasrahkan Azaim kecil ketangan Sayid Muhammad. Pihak kelurga akhirnya memutuskan agar Azaim Ibrahimy menempuh pendidikan ditanah air terlebih dahulu.

Ahirnya, Azaim yang saat itu berusia sekitar 6 tahun disekolahkan di SD Ibrahimy Sukorejo. Di Sekolah Dasar milik kakeknya sendiri, Kiai As’ad inilah Azaim kecil bercengkrama dengan anak-anak seumurnya.

Pada masa-masa menempuh pendidikan dasarnya ini, Azaim kecil tidak jauh beda dengan teman-temannya yang lain. Ia bermain, bergurau, nakal dan lain sebagainya. Pada masa-masa ini, Azaim kecil tidak jarang membuat mangkel Ummi dan kakak-kakaknya. Penyebabnya adalah persoalan klasik bagi anak kebanyakan, seperti merengek-rengek, membanting sesuatu jika merasa kecewa sampai urusan malas mandi.

Masa kanak-kanaknya tanpa terasa berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu. Tahun 1992 iapun lulus SD. Karena masih belum siap pisah dengan teman-teman SD nya, ia kembali melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo. Masa pendidikannya di SMP milik kelaurganya ini ia tempuh dari tahun 1992-1994. Di SMP Ibrahimy ini ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP nya. Dengan berbagai pertimbangan, Tahun 1994 ia pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995.

Usut punya usut, kepindahan Ra Zaim-panggilan karib Ahmad Azaim Ibrahimy-dari SMP Ibrahimy ini ternyata atas inisiatif Ra Zaim sendiri. Alasan Ra Zaim untuk pindah dari sekolah yang notabene adalah milik keluarganya sendiri sangat mencengangkan. Di SMP Ibrahimy ini Ra Zaim ingin segera pindah karena ia merasa guru-gurunya meperlakukannya dengan istimewa. Walau sebagai cucu Kiai As’ad, Ra Zaim ternyata tidak nyaman dengan perlakuan guru-gurunya pada dirinya. Iapun mendesak Sang Ummi untuk mencarikan tempat mondoknya yang baru. Atas hasil Istikhoroh dari Sang Ummi, Ra Zaimpun mantap mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Tidak ingin diperlakukan secara istimewa ditempat barunya ini, Ra Zaim tidak pernah sama sekali menampakkan kalau ia adalah putra KH. Dhofier Munawar. Di Pesantren inilah ia tampil apa adanya. Ra Zaim sering menyapu dan cuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, Ra Zaim langsung pergi tanpa mau menerima imbalan yang ditawarkan kepadanya.

Merasa mendapatkan ketenangan di Pesantren ini, Ahmad Azaim Ibrahimy kembali melanjutkan pendidikan formalnya ditempat yang sama, di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton. Perantauan ilmiyahnya di Paiton yang dimulai tahun 1994 ini berakhir sampai tahun 1998.

Ahmad Azaim Ibrahimy yang sudah menginjak usia dewasa memang sosok pemuda yang haus ilmu pengetahuan.ilmu-ilmu Hikmah yang telah merasuk kalbunya tidak serta merta membuatnya puas. Justru, dengan semua itu ia merasa kurang dan terus ingin menggali keluasan ilmu sang Khaliq.

Maka setelah menempuh pendidikan formalnya, Ra Azaim muda melanjutkan pendidikan non-formalnya di beberapa pesantren. Ia menjadi santri yang rajin berpindah dari pesantren satu kepesantren lainnya. Pada masa-masa sebagai santri rantau ini sekitar enam pondok pesantren yang pernah ia singgahi. Pada tahun 1998-1999 ia mencoba nyantri di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang. Pada tahun 1999 ia kembali mondok beberapa bulan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem. Pada kurun tahun 2000 saja dua pondok pesantren yang ia singgahi yakni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo. Azaim sosok lelaki haus ilmu-ilmu Tuhan itu kembali menjalani perantaunnya di Ma’had Nurul Haromain. Di Pesantren yang bertempat di Pujon Malang ini ia mondok selama tiga tahun yakni dari tahun 2000-2003.

Nah, pada tahun 2003 inilah, pihak keluarga merasa harus memenuhi janjinya kepada Abuya Sayid Muhammad. Maka pada tahun ini Ra Azaim yang sudah puas mengelilingi Pondok Pesantren-Pondok Pesantren di tanah Air memutuskan untuk berangkat ke Ma’had Rushaifah, Mekkah Al-Mukarramah asuhan Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki. Di Ma’had orang yang pernah menimangnya saat masih Bayi ini, Ahmad Azaim Ibrahimy mampu menambah pundi-pundi keilmuannya.

Tentang pendidikannya di Ma’had yang sekarang ini diasuh oleh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki akan dibahas secara khusus. Sebelumnya, kami akan sedikit membahas Pra dan Pasca kelahirannya. Pada bagian ini juga akan dibahas masa-masa kecilnya.

Pra dan Pasca kelahiran Ahmad Azaim Ibrahimy

Tanda-tanda kalau Ra Zaim akan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan sebagai tokoh panutan Ummat sudah terlihat sebelum kelahirannya. Bahkan sebelum ada dirahim Sang Bunda, tanda-tanda itu sudah nampak. Hal itu berawal dari mimpi Sang Bunda, Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Saat itu Nyai Zainiyah masih belum mengandung Razaim bermimpi ayam jantan terbang mengelilingi sekitar pesantren. Ayam jantan berbulu emas kuning kemerah-merahan itu terus terbang mengelilingi Pesntren seraya berkokok dengan ucapan “Subahanal Malikil Kuddus”. Lafadz suci itu diucapkan ayam jantan sampai tiga kali.

Keesokan harinya, Nyai Zainiyah menceritakkan mimpinya kepada suami tercinta, Kiai Dhofier. Mendengar cerita dari sang istri Kiai Dhofier berdo’a akan memiliki anak laki-laki. Tidak lama dari mimpi tersebut, Nyai Zainiyah mengandung. Dan tidak lain yang ada dalam kandungan itu adalah Ahmad Azaim Ibrahimy.

Selama mengandung Putranya ini, Nyai Zainiyah tidak pernah merasa kalau ia lagi mengandung, pasalnya, kandungan tersebut tidak seperti yang ia rasakan saat mengandung anak-anaknya yang lain. Bentuk kandunganyapun seolah-olah didalamnya tidak berisi bayi.

Nyai Zainiyah merasa mengandung hanya saat sujud. Saat sujud itulah Nyai Zainiyah merasa ada yang bergerak-gerak didalam rahimnya. Setelah sujud, perasaan itu hilang kembali. Tanda-tanda kehamilan diluar sujud tidak ada sama sekali. Karena merasa tidak hamil, Nyai Zainiyah tidak pernah mau memeriksa kandungannya. Nyai Zainiyah takut kalau-kalau dokter memvonis kalau ia terserang penyakit Tumor. Maka dengan alasan itu Nyai Zainiyah tidak pernah memeriksa kandungannya.

25 Januari 1980 Ahmad Azaim Ibrahimy dilahirkan. Orok bayi yang sebelumnya dianggap oleh sang bundanya adalah penyakit tumor ternyata berbuah bayi laki-laki yang lucu. Bayi lucu itu oleh Umminya diberi nama Muhammad Imdad.

Kiai As’ad yang tau kalau bayi yang keluar dari rahim putrinya adalah bayi lelaki girangnya bukan kepalang. Sambil keluar masuk rumah, Kiai As’ad tiada henti mengucapkan kalimat Tahmid sebagai wujud syukurnya kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahinya cucu laki-laki. Menurut Nyai Zainiyah, Kiai As’ad tidak pernah segirang seperti itu saat cucu-cucunya yang lain dilahirkan. Baru kali itulah Kiai As’ad sangat senang atas kelahiran cucunya.

Bayi lelaki yang bernama Muhammad Imdad ini diasuh oleh Nyi Siti. Bersama ibu asuhnya inilah, Muhammad Imdad lebih banyak menghabiskan hari-harinya. Nyi Siti juga sangat menyayangi anak asuhnya itu. Pun halnya dengan anak tersebut, sangat menyayangi ibu asuhnya. Imdad tidak akan pernah tertidur sebelum dininabobokkan oleh Nyi Siti. Dan apapun yang diingini anak asuhnya, Nyi Siti tidak pernah berpikir untuk menolaknya. Pada masa-masa inilah Imdad kecil sangat nakal. Ia sering melempar sesuatu jika merasa kecil. Nyi Siti selaku ibu asuhnya kerap kali menerima bugem atau pukulan dari anak asuhnya.

Pernah suatu ketika, Imdad kecil melempar batu kearah Madrasah Putri. Gara-gara Nyi Siti saat itu sedang ngajar disebuah kelas. Ia meminta Nyi Siti berhenti ngajar. Saat Imdad ngamuk datanglah Kiai As’ad.

Mengetahui cucunya ngamuk seperti itu, Kiai As’ad bertanya sebab cucunya ngamuk. Nyi Siti menjawab pertanyaan Kiai As’ad bahwa Imdad ngamuk karena dirinya lagi ngajar santri. Kiai As’ad dengan nada bergurau meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah. Saat itu Kiai As’ad menjelaskan kepada Nyi Siti kalau nama cucunya itu masih Muhammad Imdad akan sangat nakal dan sulit diatur. Maka atas permintaan Kiai As’ad, Nyai Zainiyah merubah nama Muhammad Imdad menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu Kiai As’ad itu sekitar ia baru berumur 8 tahun.

Kesenangan Ra Zaim saat kecil adalah main tembak-tembakan. Profesi yang kerap dilakukaan para tentara itu sangat digandrungi Ra Zaim kecil. Sehingga tidak jarang ia berlagak seperti tentara. Seperti memegang bedil-bedilan sambli bersembunyi seolah-olah sedang mengintai atau menghindar dari musuh. Dan hal seperti ini tidak jarang ia peragakan. Pernah suatu ketika saat Kiai As’ad menerima tamu Negara yaitu Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), LB. Moerdani. Mengetahui kalau yang menjadi tamu kakeknya itu adalah seorang Tentara, dengan sigap Ra Zaim berlari menuju Kiai As’ad seraya berteriak “pak tembak, pak tembak (sebutan Ra Zaim kepada tentara)”. Ra Zaim yang ingin melihat secara langsung Jenderal TNI tersebut langsung duduk dipangkuan sang kakek. LB. Moerdani yang belum mengetahui siapa bocah kecil itu langsung bertanya kepada Kiai As’ad. “siapa anak ini Kiai” tanya Pak Moerdani.

Kiai As’ad menceritakan kepada tamunnya yang jenderal itu kalau anak yang duduk dipangkauannya itu adalah cucunya sendiri. “do’akan cucu saya satu-satunya ini ya pak, Insya Allah ini akan menjadi pengganti Sukorejo, akan meneruskan perjuangan saya” ujar Kiai As’ad kepada LB. Moerdani. Kiai As’ad dan LB Moerdani saat itu sedang berbicara empat mata. Tidak ada seorangpun yang ikut berbicara selain mereka berdua.

Nyi Siti yang bermaksud mengambil anak asuhnya merasa terkejut ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan Kiai As’ad. Nyi Siti langsung menceritakan kepada Nyai Zainiyah tentang apa yang baru saja ia dengar langsung. Nyai Zainiyah tidak terlalu menggubris apa yang diceritakan Nyi Siti itu. Karena setahu Nyai Zainiyah, Kiai Fawaid sudah pasti menjadi pengganti Abahnya.

Ra Zaim ditinggal Wafat oleh Abahnya, KH. Dhofier Munawar ketika ia berumur sekitar 5 tahun. Bocah kecil itu sepertinya sadar kalau abahnya telah pergi untuk selama-lamanya. Mengetahui abahnya telah wafat, iapun terdiam seribu bahasa dan hanya memandangi jenazah abahnya. Karakternya yang rewel dan banyak tingkah saat itu tidak nampak sama sekali. Ia seperti ikut menangisi kepergian abahnya.

Karakter keras kepala yang dimiliki Ra Zaim mulai bekurang saat duduk dibangku SMP. Karakter nakalnya berubah secara perlahan-lahan menjadi sosok yang Tawaddu’, penurut dan tak banyak berbicara. Ia dikenal rajin dan giat. Hal itu paling tidak bisa terlihat ketika ia sering “pindah-pindah” mondok. Ia betul-betul menjadi santri perantau, pindah dari pondok yang satu menuju pondok yang lain.

Ra Zaim yang sudah mulai menemukan jati dirinya ini, selain tampil sebagai sosok yang giat dan haus ilmu-ilmu pengetahun, juga sebagai sosok yang perhatian, berjiwa sosial dan penyayang terhadap sekitarnya.

Jiwa kepemimpinannya juga sudah mulai tanpak. Terbukti, saat liburan dari tempat mondoknya, ia pergunakan untuk mendirikan organisasi-organisasi kecil-kecilan. Dintaranya adalah Forum Komunikasi Santri Situbondo (Foksasi) dan Ikatan Silaturrahmi (Iksi). Foksasi ini sebagai wadah bagi santri-santri Situbondo yang nyantri di Sukorejo. Sedangkan Iksi ini adalah organisasi keluarga. Iksi ini sebagai wadah mempersatukan kembali kelurga besar pondok pesantren. Karena menurut hemat Ra Zaim, banyak Ahlul Bait yang sudah mulai menjauh dari pesantren. Nah, Iksi inilah yang bertugas mendatangi keluarga-keluarga yang masih ada hubungan darah dari pintu kepintu. Sampai-sampai, Iksi ini pernah berkunjung ke Pulau Madura hanya untuk mempersatukan kembali hubungan kekeluargaan diantara mereka. Perlahan namun pasti, Organisasi keluarga yang diketuai langsung oleh Ra Zaim ini mulai membuahkan hasil. Keluarga yang sebelumnya tidak “pede”bergaul dengan keluarga Dhalem mulai merapat kembali. Keluarga Dhalempun mulai menyentuh mereka.

Sebelum mendirikan Iksi ini, Ra Zaim terlebih dahulu minta izin kepada Umminya. Atas saran Umminya, Ra Zaim kemudian meghadap Pengasuh, KHR. Ach. Fawaid As’ad. Dan dihadapan Kiai Fawaid, Ra Zaim mengutarakan keinginannya untuk mendirikan Iksi. Atas restu Kiai Fawaid, Ra Zaimpun mantap mendirikan Iksi.

Berangkat ke Tanah Suci Mekkah

Sejak menyelesaikan pendidikan formalnya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (1994-1998), Ra Zaim menjadi santri perantau. Ia kerap pindah dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain. Ia mulai pindah dari pesantren yang satu menuju pesantren yang satunya lagi pada kurun tahun 1998-2003.

Nah, perantauan Ilmiahnya terasa semakin lengkap ketika ia berangkat ke Ma’had Rushaifah pada tahun 2003. Dengan menggunakan Paspor TKI, ia berangkat menuju tanah suci. Berbekal restu Sang Ummi, Ra Zaim mantap menuju Ma’had yang saat ini diasuh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki.

Sesampainya di Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, Ra Zaim langsung menghadap Abuya Sayid Muhammad. Saat itu, orang yang pernah menggendongnya itu sudah mulai sakit-sakitan. Baru bertemu dengan Sayid, Ra Zaim langsung diminta membantu sayid. Ia tidak diberikan keluar oleh Sayid.

Minggu-migu pertama di Kota Mekkah, Ra Zaim sering diperintahkan Sayid untuk mengantarkan makanan berbuka puasa ke Masjidil Haram. Mengantar makanan berbuka puasa inilah yang dilakukan pada Bulan Ramadhan setiap harinya. Sekitar satu tahun di Mekkah, Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki wafat. Otomatis beliau diganti oleh putranya yaitu Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki.

Selain sebagai santri yang cerdas, Ra Zaim juga dikenal sangat dekat dengan Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Ia sering diminta menjadi penerjemah isi pidato Sayid Ahmad. Jika ada jama’ah haji Indonesia yang datang ke Sayid, bisa dipastikan Ra Zaimlah yang diplot sebagai penerjemah. Ra Zaim bukan hanya Mutarajjim (penerjemah) dari sayid saja, akan tetapi sering menjadi Mutarajjim jika ada tamu-tamu dari negera lain seperti Iraq, Afghanistan dll.

Sebelum menjadi penerjemah, Ra Zaim sebelumnya dipercaya sebagai kameramen. Jika ada acara-acara Sayid, maka Ra Zaim yang mengabadikan acara tersebut. Namun pekerjaan sebagai pengambil gambar tersebut saat ini memang sudah tidak dilakukan. Sudah ada santri lain yang menggantikan posisinya. Dengan demikian Ra Zaim lebih sering menjadi Mutarajjim.

Memang, di Ma’had Rushaifah Ra Zaim selain menuntut ilmu juga mengabdikan dirinya kepada gurunya. Tidak jarang ia menyapu halaman, membersihkan sekitar Ma’had. Meski tergolong darah biru, pekerjan-pekerjaan meyapu bukan sesuatu yang asing bagi Ra Zaim. Pasalnya, pekerjaan tersebut sudah sering dilakukanya saat ia masih nyantri di Nurul Jadid. Tentang kealimanya memang sudah tidak diragukan. Alim, wajar saja bagi cucu Kiai As’ad ini. Abahnya, KH. Dhofier Munawwar siapa yang tidak tau kealimannya. Cucu Kiai Ruham yang wafat tahun 1985 ini dikenal sebagai kamus berjalan. Sehingga besar kemungkinan kalau kealiman Kiai Dhofier berpindah kepada putranya yang tidak lain adalah Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

Lantas kapan ia akan resmi menjadi pemegang estafet kepemimpinan Salafiyah? Tentang kepastian kapan kepulangannya ke Tanah Air masih belum bisa dipastikan secara pasti. Keputusannya tetap ada pada Sayid Ahmad.

Namun dari keterangan Nyai Hj. Uswatun Hasanah, kakak kandung Ra Zaim sendiri mengatakan pernah melakukan komunikasi dengan adiknya itu. Saat dihubungi, Ra Zaim waktu itu sedang mengurus surat-surat kepulangannya. Yang jelas, sebagai santri yang patuh kepada Sang Guru, Ra Zaim akan menyerahkan sepenuhnya kepada Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki*.

Sumber :
http://www.iksass.net/blog/2015/01/mengenal-lebih-dekat-sosok-pengasuh-iv-khr-ahmad-azaim-ibrahimy/
http://bejomakmurpratama.blogspot.co.id/2015/09/mengenal-lebih-dekat-sosok-pengasuh-iv.html

KHR. As'ad Syamsul Arifin Mediator Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Berikut ini adalah Teks Terjemahan Transkip Pidato KH As’ad Syamsul Arifin, sebagai bukti sejarah bahwa KH As’ad Syamsul Arifin merupakan Mediator Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU), berikut isi pidato beliau :

-------------------------------
Yang akan saya sampaikan pada anda tidak bersifat nasihat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada anda semua. Anda suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya). Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU, Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU? tentunya mubaligh-mubaligh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak.  Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini. Umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya’, pelopor-pelopor Rasulullah Saw ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat mazhab, yang empat. Jadi, Ulama, para auliya’, para pelopor Rasulullah Saw masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam menurut orang sekarang Islam Ahlusunah wal jamaah, syariat Islam dari Rasulullah saw yang beraliran salah satu empat mazhab. Khususnya mazhab Syafi’i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia. Mazhab-mazhab yang lain juga ada. ini termasuk Islam Ahlusunnah wal jamaah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlisunnah wal jamaah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kiai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kiai Muntaha Jengkebuan menantu Kiai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia. Masing-masing ulama melaporkan:


“Bagaimana Kiai Muntaha? Tolong sampaikan kepada Kiai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. Semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadlratusy Syaikh. Tidak ada yang berani kalau bukan anda yang menyampaikannya”.

Kiai Muntaha berkata:

“Apa keperluannya?”

“Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya alquran dan Hadis saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo?  Hal ini kan sudah berjalan di Indonesia. Rupanya kelompok ini berkembang melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. tolong disampaikan pada Kiai Kholil.”

Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kiai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kiai Kholil menyuruh Kiai Nasib:

“Nasib, Ke sini! Bilang kepada Muntaha, di alquran sudah ada, sudah cukup:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢﴾

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai” (at-Taubat: 32)

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta’ala, maka kehendaknya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha”.


Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kiai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman.

“Saya puas sekarang” kata Kiai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kiai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Hanya ulama tanah Jawa saja. Mereka bermusyawarah dan berdiskusi. Yang ikut termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), Kiai Sidogiri, Kiai Hasan almarhum, Genggong, dari barat Kiai Asnawi Kudus, ulama-ulama Jombang semua, dan Kiai Thohir.

Para kiai berkata… Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.

Sampai tahun 1923, ada kiai berpendapat: “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”,

kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat”.

Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada saja”.

Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi.

Kemudian ada satu ulama yang matur sama kiai:

“Kiai saya menemukan satu sejarah tulisan sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini… (Kiai As’ad berkata: Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja)… :

“Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat):

“Islam Ahlisunnah wal Jamaah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Bawa ke Indonesia”.

Jadi di Arab sudah tidak mampu  melaksanakan syariat Islam Ahlisunnah wal Jamaah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini. Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugaskan ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kiai Wahab, apa Kiai Bisri. Insyaallah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan. Tahun 1924, Kiai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil:

“As’ad, ke sini kamu!” Asalnya, saya ini mengaji al-quran di pagi hari. Karena saya pelat dan tidak bisa mengucapkan huruf Ra’, saya dimarahi oleh kiai.

“Arrahman Arrahim… “

Kiai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”.

“Tidak saya sengaja Kiai. Saya ini pelat.”

Kiai kemudian keluar… (Kiai Kholil melakukan sesuatu)… Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kiai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi:

“Mana yang cadal itu? Sudah sembuh cadalnya?”.

“Sudah Kiai”.

“Kesini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asyari Jombang. Tahu rumahnya?”.

“Tahu”.

“Kok tahu? Pernah mondok disana?”.

“Tidak. Pernah sowan”.

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan”.

“Ya, kiai”.

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kiai”.

“Ini”.

Saya diberikan uang ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya mau berangkat, saya dipanggil lagi:

“Kesini kamu! Ada ongkosnya?”.

“Ada, kiai”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”.

Saya dikasih lagi 1 ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang.

Kiai keluar:

“Ini (tongkat) kasihkan ya… (Kiai Kholil membaca surat Thaha: 17-21)…

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannya lah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”

Namanya masih muda, masih gagah–sekarang saja sudah sudah keriput–gagah pakai tongkat, dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel

“Orang ini gila. Muda pegang tongkat”.

Ada yang lain bilang:

“Ini wali”.

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila. Ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu. Saya hanya disuruh kiai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu. Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok gila karena masih  muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak usah diikuti karena bisa rusak semuanya. Yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kiai. Saya terus jalan. Sampai di Tebuireng, (Kiai Hasyim bertanya):

“Siapa ini?”.

“Saya, Kiai”.

“Anak mana?”.

“Dari Madura, Kiai”.

“Siapa namanya?”

“As’ad”.

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kiai”.

“Keponakanku kamu, Nak”. “Ada apa?”.

“Begini Kiai, saya disuruh Kiai (Kholil) untuk mengantar tongkat”. \

“Tongkat apa?”

“Ini, Kiai”.

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kiai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas).

“Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat….

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١﴾

“Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya”. Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula”

“Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jamiyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kiai Kholil kepada saya”


Inilah rencana mendirikan Jamiyah Ulama. Belum ada Nahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jamiyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang.

“Mau pulang kamu?”

“Ya, Kiai”.

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kiai”

“Saya cukup didoakan saja, Kiai”

“Ya, mari… Haturkan sama Kiai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jamiyah Ulama akan diteruskan”.

Inilah asalnya Jamiyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kiai Kholil.

“As’ad, kesini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kiai”.

“Hasyim Asy’ari?”

“Ya, Kiai”

“Di mana rumahnya”.

“Tebuireng”.

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Kediri). Putranya Kiai Asyari Keras”.

“Ya, benar. Di mana Keras?”.

“Di baratnya Seblak”.

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kiai”.

“Ini tasbih hantarkan”

“Ya, Kiai”.

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kiai keluar dari Langgar.

“Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kiai. Sudah minum wedang dan jajan”.

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kiai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kiai”.

Saya makan di jalan dimarahi. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya:

“Cukup itu?”

“Cukup, Kiai”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kiai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi.

Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya:

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar”.

Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir …

“Ini”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya.

“Kok leher?”

“Ya, Kiai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh”.

“Ya, kalau begitu”.

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu.

“Ini orang yang memegang tongkat itu?”

“Wah.. Hadza majnun”.

Ada yang bilang “wali”, ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kiai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kiai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya. Ada yang minta “karcis! karcis!” Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya kiai. Jadi Auliya’ itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kiai Hasyim tanya:

“Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kiai” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kiai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kiai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su’ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik anda”.

Kemudian diambil oleh Kiai.

“Apa kata Kiai?”.

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar”. Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur”. Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, Kiai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jamiyatul Ulama. Ini sudah dibuat. Organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kiai Dahlan dari Nganjuk. Beliau juga yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada gubernur jenderal.

Ya, seperti itulah yang dapat saya ceritakan…

-------------------------------
Sumber:
http://mahad-aly.sukorejo.com/2015/02/teks-terjemahan-transkip-pidato-kh-asad-syamsul-arifin/
https://www.youtube.com/watch?v=NG7MZq6_iE8

Lihat Videonya